PNS (Pagi Nunggu Sore)

PNS (Pagi Nunggu Sore)

Jamaknya mahasiswa Yogyakarta selalu mudah dikenali, dimanapun mereka berada. Semisal saat acara reuni SMA, sangat kontras antara mahasiswa Jogja dengan mahasiswa dari kota lain. Biasanya mahiswa yang kuliah di kampus agak “kebarat-baratan” lebih terlihat klimis dan wangi penampilannya, sedangkan kalau mahasiswa Jogja kadangkala dapat diidentifikasi dari baunya, yaitu hangus matahari. Memang tidak semua, paling tidak saya dan beberapa teman seperti itu, termasuk kakak saya sendiri, kalau pulang kampung gaya nya bak Che Guevara lengkap dengan setelan baret di kepala dan kaos hitam bertuliskan kata-kata perlawanan.

Narasi diatas adalah kenangan tempo dulu. Namun sejak Agustus 2017 saya resmi berambut cepak, menanggalkan rambut gondrong demi sebuah pasfoto 3×4 berlatar merah lengkap dengan setelah kemeja putih berdasi, sebagai prasyarat mendaftar tes CPNS.

Kemudian sejak saat itu, kurang lebih 3 tahun lamanya saya resmi mengabdikan diri kepada Negara, secara harfiah tentunya, sebagai PNS tepatnya. Kemudian setelah resminya saya menjadi Abdi Negara, lambat laun semua bayangan akan paradigma miring dari masyarakat terkait PNS pelan-pelan mulai luntur, semisal adagium PNS (Pagi Nunggu Sore).

Pada awalnya, beberapa teman sejawat memang mempertanyakan keputusan saya tersebut, terlebih karena cukup lama saya bergumul dalam industri kreatif. Menurut mereka menjadi PNS adalah pilihan terakhir, karena menjadi PNS berarti berhenti berfikir kreatif yang kemudian berorientasi pada birokrasi yang kusut.

Bahkan lebih parahnya lagi, beberapa teman secara sarkastik memberikan komentar kalau menjadi PNS bisa dapat “seseran”, atau jika yang bertanya adalah orang yang agak “sopan” maka pertanyaannya adalah  “bisa jadi PNS habis berapa?”.

Hal-hal tersebut diatas sampai saat ini seolah telah menjadi dogma di masyarakat. Padahal dalam kenyataannya, hal tersebut tidak benar-benar terjadi, paling tidak dalam satuan kerja saya. Untuk itu saya fikir kesalahpahaman tersebut harus seger diluruskan sebelum menjadi doktrin yang bercokol di masyarakat.

Pertama, bila ada yang bertanya “untuk jadi PNS habis berapa?” jawab saja “habis Rp.100.000 dengan rincian : 1. Materei : Rp.6000 / 2. ATK : Rp.20.000 / 3. Buku Soal CPNS : Rp.50.000 / 4. Kopi : Rp.10.000 / 5. Quota Internet : Rp.10.000 / 6. Parkir Warkop : Rp.2000 / Infaq : Rp.2000”. Kemudian setelah itu diberi tambahan informasi bahwa tes CPNS sekarang sudah pakai sistem CAT, jadi real-time hasil kelulusannya, “NO TIPU-TIPU”.

Kedua, menjadi PNS bukan berarti membunuh kreatifitas. Saat ini hampir semua satuan kerja diharuskan mempunyai semacam video “company profil” sebagai syarat akreditasi mutu, disanalah ranah ide kreatif ASN muda dapat di terapkan. Kemudian belum lagi campaign-campaign layanan masyarakat yang harus disajikan dalam sebuah brosur yang kreatif nan apik. Hal tersebut adalah beberapa contoh kecil dimana kreatifitas seorang ASN dapat disalurkan, karena belakangan ini pelayanan prima adalah sasaran mutu yang menjadi strandar semua satuan kerja.

Ketiga, PNS bukanlah sebuah profesi yang seenaknya dapat melakukan pungutan liar. Karena saat ini Kemenpan-RB telah memberikan ketentuan bahwa satuan kerja harus mencanangkan diri sebagai Wilayah bebas Korupsi (WBK) serta Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) pada satuan kerjanya. Dimana kedua predikat tersebut mempunyai standard yang tinggi untuk dapat diberikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa bila sebuah satuan kerja sudah memperoleh kedua predikat tersebut, maka satuan kerja tersebut dijamin pasti bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Keempat, menyoal PNS dan Birokrasi adalah benang kusut yang menyebabkan masyarakat sangat enggan berurusan dengan lembaga pemerintah. Padahal senyatanya, saat ini setiap satuan kerja harus menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dalam servis-nya. Sehingga tidak adalagi yang namanya birokrasi benang kusut, karena pelayanan diberikan dan selesai pada satu meja saja. Pengertian gampangnya adalah, hal tersebut sama seperti motto biro jasa, yaitu “one stop solution”. jadi tidak ada lagi itu percaloan.

Kelima, PNS (Pagi Nunggu Sore). adalah benar PNS memang harus absen pagi hari kemudian menunggu hingga absen sore dengan cara mengerjakan tugas pokoknya, belum lagi tugas administrasi dan manajemen lainnya yang tidak akan diketahui bila belum menjadi PNS. Semisal adalah seorang guru, apakah kerjanya hanya mengajar saja? Tentu saja tidak. Ada pekerjaan lain diluar tugas pokoknya untuk mengajar, semisal adalah menyelesaikan administrasi dan menyiapkan evidence untuk akreditasi sekolahnya. Atau mungkin tugas kesekretariatan lainnya bila guru tersebut merangkap jabatan di satuan kerjanya.  Sehingga adagium bahwa PNS (Pagi Nunggu Sore) literally adalah memang benar adanya.

Sebagai seorang PNS/ASN muda atau paling tidak yang berjiwa muda, sudah barang tentu kewajiban kita adalah untuk menjadi agent of change di masyarakat, hal tersebut sesuai dengan materi yang diberikan oleh Widiaswara ketika latihan dasar dulu saat masih CPNS, jangan hanya disimpan di folder explore kemudian corrupt karena terkena virus komputer, namun harus diamalkan sedemikian rupa.

Kemudian, tidak perlu insecure menjadi PNS. Toh diatas sudah diberikan lima jawaban pamungkas bila ada tetangga atau teman di kampung yang mencibir, kalau perlu tawarkan untuk diajari mengerjakan soal CAT, susah hlo soalnya.

Tinggalkan komentar